Sistem Dakwah

MAKALAH

PENGANTAR ILMU DAKWAH

“Ormas Islam di Timur dan Barat”

Oleh:

Istiqlal H.Pradityo

4715072245

Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

Islam merupakan suatu agama yang pada hakekatnya tidak hanya menjurus pada satu segi kehidupan, namun mencakup semua aspek kehidupan manusia,

dalam Islam dakwah merupakan salah satu langkah dan cara dalam menyebar luaskan ajaran-ajaran dalam Islam, di dalam dunia Islam sendiri khususnya di dunia belahan timur terdapat berbagai macam cara dalam mensyiarkan ajaran Islam.

dakwah islam di wilayah timur dimulai sejak zaman rasul dan berlanjut pada zaman sahabat dan pada masa saat-saat ini, jika pada masa tabi’ tabi’in terdapat berbagai macam dinasti-dinasti yang menyebar luaskan syiar islam, namun pada masa modern saat ini arah dakwah tidak terbatas pada dakwah melalui masjid-masjid namun juga saat ini dakwah bisa dilakukan dengan menggunakan media seperti ormas ataupun orpol.

Setelah islam tersebar keseluruh penjuru dimuka bumi ini, muncullah satu persatu golongan-golongan yang mengatas namakan organisasi massa (ormas) yang berlandaskan prinsip keislamannya, pada kesempatan kali ini kami akan membandingkan antara ormas yang terletak di wilayah timur dengan ormas yang berada diwilayah barat.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Ikhwan-ul-Muslimin
    1. 1. Awal Berdiri

Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota IsmailiyahMesir pada Maret 1928 dengan pendiri Hassan al-Banna, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi. Ikhwanul Muslimin pada saat itu dipimpin oleh Hassan al-Banna. Pada tahun 1930, Anggaran Dasar Ikhwanul Muslimin dibuat dan disahkan pada Rapat Umum Ikhwanul Muslimin pada 24 September1930.[1]

2.     Perkembangan

1930-1948

Kemudian pada tahun 1934, Ikhwanul Muslimin membentuk divisi Persaudaraan Muslimah. Divisi ini ditujukan untuk para wanita yang ingin bergabung ke Ikhwanul Muslimin.[4] Walaupun begitu, pada tahun 1941 gerakan Ikhwanul Muslimin masih beranggotakan 100 orang, hasil seleksi dari Hassan al-Banna[5]. Pada tahun 1948, Ikhwanul Muslimin turut serta dalam perang melawan Israel di Palestina. Saat organisasi ini sedang berkembang pesat, Ikhwanul Muslimin justru dibekukan oleh Muhammad Fahmi NaqrasyiPerdana Menteri Mesir tahun 1948. Berita penculikan Naqrasyi di media massa tak lama setelah pembekuan Ikhwanul Muslimin membuat semua orang curiga pada gerakan Ikhwanul Muslimin.

1950-1970

Secara misterius, pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan al-Banna meninggal dunia karena dibunuh pada 12 Februari 1949. Kemudian, tahun 1950, pemerintah Mesir merehabilitasi organisasi Ikhwanul Muslimin. Pada saat itu, parlemen Mesir dipimpin oleh Mustafa an-Nuhas Pasha. Parlemen Mesir menganggap bahwa pembekuan Ikhwanul Muslimin tidak sah dan inkonstitusional. Ikhwanul Muslimin pada tahun 1950 dipimpin oleh Hasan al-Hudhaibi. Kemudian, tanggal 23 Juli 1952, Mesir dibawah pimpinan Muhammad Najib bekerjasama dengan Ikhwanul Muslimin dalam rencana menggulingkan kekuasaan monarki Raja Faruk pada Revolusi Juli. Tapi, Ikhwanul Muslimin menolak rencana ini, dikarenakan tujuan Revolusi Juli adalah untuk membentuk Republik Mesir yang dikuasai oleh militer sepenuhnya, dan tidak berpihak pada rakyat. Karena hal ini, Jamal Abdul Nasir menganggap gerakan Ikhwanul Muslimin menolak mandat revolusi. Sejak saat ini, Ikhwanul Muslimin kembali dibenci oleh pemerintah.

1970-sekarang

Ketika Anwar Sadat mulai berkuasa, anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara mulai dilepaskan. Menggantikan Hudhaibi yang telah meninggal pada tahun 1973Umar Tilmisani memimpin organisasi Ikhwanul Muslimin. Umar Tilmisani menempuh jalan moderat dengan tidak bermusuhan dengan penguasa. Rezim Hosni Mubarak saat ini juga menekan Ikhwanul Muslimin, dimana Ikhwanul Muslimin menduduki posisi sebagai oposisi di Parlemen Mesir.

  1. 3. Pemikiran

pada awal berdirinya, Ikhwanul Muslimin telah memiliki tujuan dalam dakwah yang mereka kerjakan dalam segala bentuk kegiatan yang mereka kerjakan, tujuan pokok Ikhwanul Muslimin antara lain mewujudkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam. dalam setiap kegiatannya Ikhwanul Muslimin menyerukan bahwa mereka menolak dan mengutuk segala bentuk penjajahan dan monarki yang pro-Barat.

Dalam perpolitikan di berbagai negara, Ikhwanul Muslimin ikut serta dalam proses demokrasi sebagai sarana perjuangannya, sebagaimana kelompok-kelompok lain yang mengakui demokrasi.

Ikhwanul Muslimin memiliki beberapa motto yang mereka junjung, antara lain:

  1. Allah tujuan kami (Allahu ghayatuna)
  2. Rasulullah teladan kami (Ar-Rasul qudwatuna)
  3. Al-Qur’an landasan hukum kami (Al-Quran dusturuna)
  4. Jihad jalan kami (Al-Jihad sabiluna)
  5. Mati syahid di jalan Allah cita-cita kami yang tertinggi (Syahid fiisabilillah asma amanina)

Walaupun demikian Ikhwanul Muslimin tetap mengikuti segala bentuk perkembangan teknologi dan tidak meninggalkannya. Sebagai organisasi Islam moderat, Ikhwanul Muslimin diterima oleh segala lapisan dan pergerakan. Ikhwanul Muslimin menekankan adaptasi Islam terhadap era globalisasi, bukan berarti umat Islam turut terseret dalam era globalisasi. Pemikiran dan pergerakan Ikhwanul Muslimin mencakup delapan aspek yang mencerminkan luasnya cakupan Islam sebagai ideologi yang mereka anut, antara lain:

  1. Dakwah salafiyah (dakwah salaf)
  2. Thariqah sunniyah (jalansunnah)
  3. Hakikat shufiyah (hakikat sufi)
  4. Hai’ah siyasiyah (lembaga politik)
  5. Jama’ah riyadhiyah (kelompok olahraga)
  6. Rabithah ‘ilmiyah tsaqafiah (ikatan ilmiah berwawasan)
  7. Syirkah iqtishadiyah (perserikatan ekonomi), dan
  8. Fikrah ijtima’iyah (pemikiran sosial)

Menurut Syaikh Hasan al-Banna ciri gerakan Ikhwan adalah:

  1. Jauh dari sumber pertentangan.
  2. Jauh dari pengaruh riya dan kesombongan.
  3. Jauh dari partai politik dan lembaga-lembaga politik.
  4. Memperhatikan kaderisasi dan bertahap dalam melangkah.
    1. Lebih mengutamakan aspek aspek amaliyah produktif dari pada propaganda dan reklame.
    2. Memberi perhatian sangat serius kepada para pemuda.
    3. Cepat tersebar di kampung-kampung dan dikota-kota.

Selain dari ciri Ikhwanul Muslimin Hasan Al-Banan juga menyebutkan bahwa karakteristik dari Ikhwanul Muslimin antara lain :

  1. Gerakan Ikhwan adalah gerakan Rabbaniyyah. Sebab azas yang menjadi poros sasarannya ialah mendekatkan manusia kepada Rabb-nya.
  2. Gerakan Ikhwan bersifat ‘alamiyah (Internasional). Sebab arah gerakan ditujukan kepada semua umat manusia.
  3. Gerakan Ikhwan bersifat Islami. Sebab orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam.
  1. 4. Penyebaran Ikhwanul Muslimin

Munculnya gerakan Ikhwanul Muslimin bermula di Isma’iliyyah kemudian mulai menyebar ke Kairo. Dari Kairo dakwah Ikhwanul Muslimin mulai menyebar ke plosok-plosok wilayah Mesir. Pada akhir tahun 40-an, cabang Ikhwan di Mesir sudah mencapai 3000an. Tiap cabang memiliki anggota yang cukup banyak. Gerakan tersebut kemudian meluas ke negara-negara Arab. Ia berdiri kukuh di Suriah, Palestina, Yordania, libanon, Irak, Yaman dan lain-lain. Dewasa ini anggota dan simpatisannya tersebar di berbagai penjuru dunia.[2]

BAB III

ISNA

(Islamic Society of North America)

  1. B. ISNA (Islamic Society of North America)
    1. 1. Awal Berdiri

ISNA (Islamic Society of North America) Didirikan pada tahun 1981 dengan bantuan dana oleh Saudi- Muslim Students ‘Association yang bertempat di Amerika Serikat dan Kanada (MSA), Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) mengklaim bahwa mereka adalah organisasi Islam terbesar di benua tersebut. ISNA diciptakan oleh MSA dengan bantuan salah satu Jihad Islam Palestina ‘s pendiri siswa, Sami Al-Arian.

2.     Perkembangan

  1. 3. Pemikiran

Dalam pelaksanaannya ISNA memiliki visi dan misi yang akan menunjang dan sebagai pedoman dalam menjalankan setiap kegiatan dakwah mereka.

Visinya antara lain:

Untuk menjadikan organisasi ini sebagai teladan dan sebagai pemersatu uamt Islam di wilayah Amerika Utara dan juga dapat memberikan kontribusi dalam perbaikan umat islam dan masyarakat pada umumnya.

Misinya Antara lain:

Menjadikan ISNA sebagai pusat asosiasi bagi organisasi-organisasi Islam dan individu muslim yang menyediakan platform umum untuk menyajikan bahan-bahan ajaran Islam, mendukung masyarakat Muslim, pengembangan pendidikan, sosial dan program penjangkauan dan membina hubungan baik dengan masyarakat agama lain, dan sipil dan organisasi lainnya.

Tujuan yang ingin dicapai oleh ISNA dalam hal individu-individu muslim adalah dalam hal:

  1. Pelatihan Imam dan Pengembangan Kepemimpinan
  2. Keterlibatan Pemuda
  3. Menjadi pusat pengelolaan keuangan muslim di wilayah barat
  4. Sebagai icon muslim
  5. Membangun hubungan baik antar ummat beragama
  6. 6. Pengembangan Masyarakat
  7. 4. Penyebaran ISNA

Dalam hal ini ISNA memfokuskan diri pada penyediaan bahan-bahan ceramah Wahhabi indoktrinasi teologis kepada para imam-imam masjid yang berada di wilayah Amerika Utara.

BAB IV

IM Vs ISNA

Jika kita melihat dari kedua pembahasan pada bab sebelumnya maka disana terlihat perbedaan-perbedaan, dalam hal latar belakang berdirinya dan perkembangannya organisasi Ikhwanul Muslimin lebih memiliki berbagai macam halangan dan rintangan, seperti para tokohnya dijadikan sebagai buronan dan dibunuh karena adanya isu-isu yang menyudutkan mereka, namun sebaliknya ISNA pada awal pembentukkannya tidak begitu banyak masalah karena ISNA lebih condong sebagai organisasi sosial yang lebih mengutamakan pada kesejahteraan umat muslim di Amerika khususnya Amerika Utara walaupun dana-dana yang mereka dapat untuk organisasi banyak mengalir dari wilayah Arab dan kebanyakan dari golongan Wahabi yang beraliran keras.

Jika kita melihat pada latar belakang berdirinya maka perbedaan yang  mendasar dari segala macam kegiatan, tujuan dan juga tempat aktivitasnya maka dapat disimpulkan bahwa organisasi Ikhwanul Muslimin lebih memilih anti terhadap segala macam intervensi dari pihak barat meskipun Ikhwanul Muslimin tidak menolak pada kemajuan dan perkembangan teknologi, sedangkan ISNA mereka lebih menggunakan pendekatan secara halus dan juga mereka lebih mementingkan sikap toleransi antar umat beragama.

BAB V

PENUTUP

Apapun bentuk dan kegiatan yang dilakukan oleh ormas-ormas islam tentulah mereka memiliki satu tujuan yang pasti yaitu menyebar luaskan ajaran islam sehingga islam dapat lebih luas dan lebih besar lagi, segala bentuk perbedaan yang ada di antara ormas di wilayah timur dan barat itu lebih kepada wilayahnya, karena suatu wilayah dapat mempengaruhi segala bentuk kegiatan, dan juga yang tidak kalah penting adalah perbedaan kebudayaan antara kedua wilayah tersebut sehingga mereka harus beradaptasi agar dapat diterima di wilayah tersebut.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun

[2] http://ainuamri.blogsome.com/2009/08/23/ikhwanul-muslimin/

One response to “Sistem Dakwah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s