perbandingan agama

PERBANDINGAN AGAMA-AGAMA

LAPORAN HASIL OBSERVASI LAPANGAN MENGENAI HARI KIAMAT, SURGA DAN NERAKA, SELIBAT, DAN PLURALISME BAGI SETIAP AGAMA DI INDONESIA

DI SUSUN OLEH :

  • ADE AFRIDA
  • BAYU PRIMANTORO
  • FAIZURRAHMAT
  • FERDIANSYAH
  • INDAH IRMAWATI
  • ISTIQLAL HADIKA P
  • NUR HIKMAH DEWI
  • NUR MAWADDAH
  • REZA RISKIANDA
  • RIFKY HAFIZI
  • SITI NURJANNAH
  • TAUFAN SAPUTRA

JURUSAN ILMU AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

AGAMA KERISTEN PROTESTAN

HKBP DAERAH CEMPAKA PUTIH

DENGAN PNDT. SIMAMORA

18 NOVEMBER 2009

(11.30 wib)

  1. HARI KIAMAT

Kristen protestan, adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab.

Umat Kristen Protestan, meyakini hari kiamat sebagai ”pembaharuan”. Dimana pada hari itu, hari yang tidak diketahui oleh siapapun di dunia ini, Yesus Kristus akan datang, dan bangkit untuk yang ke dua kalinya yang dikenal dengan (parusia) untuk meng-kuduskan manusia. Menurut kepercayaan mereka, kiamat itu digambarkan seperti kehancuran yang akan terjadi di dunia ini. Setelah kiamat terjadi mereka percaya bahwa yang mati akan dibangkitkan, dikumpulkan, dihakimi. Yang percaya kepada Yesus akan dimasukkan ke Surga dan yang tidak percaya akan dimasukkan ke Neraka. Disini mereka meyakini bahwa seberapa keras orang itu beribadat, dan berbuat kebaikan selama di dunia dan percaya kepada Yesus, orang tersebut belum tentu akan dimasukkan kedalan surga, apabila Yesus tidak memberikan anugrah kepada orang tersebut.

  1. SURGA DAN NERAKA

Menurut pendeta yang kami temui, setelah membahas mengenai hari kiamat maka sekarang membahas Surga dan Neraka akhir dari tujuan hidup umat mereka, karena setelah kiamat itu terjadi, mereka yakin akan ada surga dan neraka. Dimana surga menurut pandangan mereka adalah sebuah kehidupan yang abadi selama-lamanya dan siapa yang percaya Yesus sepenuhnya dan menyerah kan diri untuk Yesus akan mendapat surga, hal ini merupakan syarat utama bagi seseorang apabila ingin masuk Surga. Tersebut didalam al-kitab surat Roma ayat 23. ”Percaya kepada Yesus syarat yang paling utama mendapat Surga.” Disamping itu mereka meyakini bahwa perbuatan baik yang mereka lakukan merupakan buah dari iman, tersebut dalam Markus : 16, ”Siapa yang percaya akan dibaptis dan yang tidak percaya akan dihukum”.

Sedangkan Neraka menurut keyakinan mereka adalah kematian selama-lamanya, dimana manusia yang tidak percaya kepada Yesus akan dimasukkan kedalam neraka dan tidak akan dihidupkan untuk selama-lamanya. Didalam Neraka manusia akan merasakan hukuman karena tidak percaya kepada Yesus Kristus juru selamat mereka.

Selama hidup di dunia dalam agama mereka tidak mengenal konsep tebus dosa, karena hal itu tidak ada setelah mati, konsep tebus dosa adalah sebuah pengakuan dosa, dimana Yesus berjanji akan memberi ampunan.

Ini lah sekilas gambaran tentang neraka versi mereka :

  1. SELIBAT

Selibat menurut agama mereka adalah sebuah usaha untuk melepaskan diri dari hawa nafsu, dan benar-benar mau mengabdikan dirinya kepada Yesus Kristus. Unik nya di dalam ajaran mereka selibat itu tidak menjadi suatu keharusan atau syarat utama agar menjadi pendeta, dengan kata lain menikah itu pilihan, tersebut dalam Korintus : 7 ”yang nikah atau tidak bisa jatuh dalam dsoa”, bisa di simpulkan bahwa seseorang yang memutuskan untuk tidak menikah bukan suatu jaminan kalau dirinya sudah bersih dan suci terbebas dari dosa, selibat ini hanya di peruntukkan bagi seseorang yang benar-benar siap melepaskan kehidupan dunia dan mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus Kriatus.

  1. PLURALISME

Dalam keyakinan mereka diajarkan harus menghargai pluralitas dalam beragama, diantara nya :

    • Harus hidup mampu berdampingan dengan agama lain
    • Sangat menghormati keberagaman agama
    • Pluralisme merupakan takdir dari Tuhan yang tidak dapat ditolak lagi.

Menurut kepercayaan yang mereka anut, bahwasanya pluralisme merupakan   takdir dari tuhan yang tidak dapat diganggu gugat, jadi mau tidak mau, suka tidak suka mereka harus menghormati agama lain tanpa melihat kedudukan suku, dan budaya.

AGAMA BUDHA

CETIYA MANUNGGAL

DAERAH SUNTER PODOMORO

DENGAN BP. ABHAYAHEMA KAHARUDDUIN

18 NOVEMBER 2009

(13.45 wib)

  1. HARI KIAMAT

Dalam Agama Buddha kita mengenal adanya kehancuran bumi.
Kehancuran bumi kita ini berlangsung karena dipengaruhi oleh ulah manusia, juga oleh hukum universal itu sendiri. Bumi kita hancur karena terjadi ketidakberaturannya sistem orbit tata surya kita, sehingga terjadi persilangan sinar matahari dan tujuh tata surya lain. Akibatnya sinar matahari dari tujuh tata surya lain menerpa bumi kita pula, yang mengakibatkan bumi kita kepanasan, terbakar dan lenyap.

Menurut Bapa yang kami temui, Hyang Buddha pernah menyatakan tentang hancurnya bumi kita ini, sebagai berikut: ” Para bhikkhu, bentuk apapun tidak kekal, goyah dan tidak tetap. Akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun atau ratusan tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman, pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati. Selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau surut, kering dan tiada. Selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar seperti Gangga, Yamuna surut, kering dan tiada. Selanjutnya matahari keempat muncul, maka semua danau besar menjadi surut dan kering, selanjutnya matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut sampai sedalam mata kaki. Selanjutnya matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para Bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu diakhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru terbakar, menyala berkobar-kobar dan menjadi bola api yang berpijar, disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar, bumi hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa.”

  1. SURGA DAN NERAKA

”Orang bijaksana menciptakan surganya sendiri , sementara orang bodoh menciptakan nerakanya sendiri disini dan sesudahnya.”

Konsep Buddhis tentang surga dan neraka sepenuhnya berbeda dengan agama lain. Umat Buddha tidak menerima bahwa tempat ini abadi. Tidak beralasan untuk mengutuk seseorang dalam neraka abadi atas kelemahan manusiawinya,  tetapi cukup beralasan untuk memberinya setiap kesempatan guna mengembangkan dirinya sendiri. Dari sudut pandang Umat Buddha, mereka yang masuk neraka dapat meningkatkan dirinya sendiri dengan menggunakan kebaikan yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Gerbang neraka tidak tergembok. Neraka adalah tempat sementara dan tidak beralasan bagi makhluk itu untuk menderita disana selamanya. Ajaran Buddha menunjukan pada kita bahwa ada surga dan neraka, bukan hanya diluar dunia ini, tetapi dalam dunia ini sendiri.
Jadi konsep Buddhis tentang surga dan neraka sangatlah masuk akal.

Sebagai contoh, sang Buddha perna berkata, ” ketika seorang yang tidak tahu membuat pernyataan tegas bahwa ada suatu neraka ( patala ) dibawah lautan, ia membuat pernyataan yang salah dan tanpa dasar.” Kata ’neraka’ adalah istilah untuk sensasi yang menyakitkan. Gagasan tentang tempat khusus yang siap atau yang diciptakan oleh Tuhan sebagai surga dan neraka tidak dapat diterima oleh konsep Buddhis.

Api neraka didunia ini lebih panas dari pada yang mungkin ada di neraka diluar dunia.Tidak ada api yang setara dengan kemarahan, napsu atau ketamakan,  dan ketidaktahuan.

Menurut Sang Buddha, kita terbakar oleh sebelas jenis kesakitan fisik dan penderitaan mental :

  • Napsu,
  • Kebencian
  • Khayalan
  • Derita
  • Kehancuran
  • Kematian
  • Kecemasan
  • Ratapan
  • Rasa sakit ( fisik dan mental )
  • Kemurungan
  • Kesedihan

Orang dapat membakar seluruh dunia dengan beberapa api pertikaian mental   ini.  Dari sudut pandang Buddhis, cara termudah untuk mendifinisikan neraka dan surga adalah dimanapun ada lebih banyak penderitaan, baik didunia ini maupun ditempat lain, tempat itu adalah neraka bagi yang menderita. Dan dimana ada lebih banyak kesenangan atau kebahagiaan, baik didunia ini maupun di tempat keberadaan lain, tempat itu adalah surga bagi mereka yang menikmati kehidupan duniawinya ditempat itu.

Umat Buddha yakin bahwa setelah kematian, tumimbal lahir dapat terjadi disalah satu dari beberapa alam keberadaan yang mungkin. Surga adalah tempat sementara dimana mereka yang telah berbuat baik mengalami banyak kesenangan inderawi selama jangka waktu yang lebih lama. Neraka adalah tempat sementara lainnya dimana para pelaku kejahatan mengalami lebih banyak penderitaan fisik dan mental. Tidak dapat dibenarkan untuk percaya bahwa tempat-tempat semacam itu adalah abadi. ”Tidak ada Tuhan di belakang layar surga dan neraka.”

Ini adalah salah satu gambar neraka, dari 15 neraka yang mereka gambarkan

  1. SELIBAT

Praktik melepaskan keduniawian di anjurkan dalam agama Buddha. Sang Tathagata bercita-cita untuk membuat semua mahluk menjadi sama tanpa perbedaan dengan Pencapaian Sang Tathagata karena Tathagata adalah yang telah benar-benar suci dan yang telah menyelesaikan semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan. Semua Buddha dari tiga masa juga demikian, selalu mengusahakan cara-cara yang bijaksana untuk menyelamatkan para mahluk yang berdiam di rumah terbakar triloka. Dengan cara yang bijak, mereka dibimbing oleh Sang Tathagata ke arah Anuttara SamyakSamBuddha.

Cara Bijaksana dari Sang Tathagata dalam menyelamatkan mahluk yang sedang berada di triloka adalah, Sang Bhagavan dapat memindahkan semua mahluk yang hidup di rumah terbakar di triloka dengan menguraikan ketiga kendaraan yakni kereta sravaka, kereta pratyekabuddha, dan kereta Bodhisattva.

Dalam pelatihan spiritual mana pun, umumnya kondisi ideal melatih diri ialah bebas tidak terikat oleh kewajiban-kewajiban seorang perumah tangga. Walaupun ini bukan suatu keharusan, terutama bila kondisi keluarga seseorang malah sangat mendukung pelatihan diri, secara umum, dengan hidup selibat seseorang dapat lebih berkonsentrasi berlatih untuk waktu yang lama dengan sepenuh hati.

Buddha mengatakan bahwa seseorang yang amat mencintai keluarganya dan rela mati demi mereka adalah seorang Bodhisattva. Benar, ini adalah sikap tidak mementingkan diri sendiri, suatu sikap pahlawan besar. Dalam hal ini, seluruh kewajiban dan tantangan dalam kehidupan perumah tangga dipandang sebagai bagian dari pelatihan diri. Motivasi membangun keluarga adalah altruistik, bukan untuk mencari kesenangan-kesenangan semu duniawi, tapi sebagai bentuk pengabdian terhadap keluarga itu sendiri dan untuk berkontribusi bagi dunia.

Sebenarnya menjalankan Dharma dalam hidup berumah tangga adalah suatu bentuk level yang tinggi. Saat Milarepa ditanya kenapa tidak berumah tangga seperti gurunya Lama Marpa yang Agung, menjawab seperti ini, ”Saya ini tidak bisa dibandingkan dengan guru saya yang bagaikan Singa jantan perkasa, mengaum di tengah-tengah dunia. Saya tidak sehebat itu, sanggup hidup berumah tangga tanpa melekat.” Lama Marpa disebutkan oleh Milarepa telah mencapai Kebuddhaan, namun tetap hidup sebagai perumah tangga tanpa tercemar oleh duniawi.

Bila menjadi Bhikkshu hanya membuat malas, tidak berlatih serius, lebih baik tetap menjadi Upasaka saja. Menjadi Bhikkshu adalah untuk mereka yang serius dan rela mengorbankan segalanya demi Bodhi dan menyebrangkan para mahkluk.
Ada juga Bhikkshu yang kembali hidup berumah tangga, lalu menjadi guru atau dharmaduta. Ini pun hal yang berguna sekali.

  1. PLURALISME

Buddhisme juga menjelaskan mengenai pluralisme serta menjelaskan apa yang saya maksud dengan ”fundamentalisme Buddhis” agar tidak terjadi kesalah-
pahaman. Pertama-tama saya hendak mengatakan bahwa Buddhisme sangat
mendukung pluralisme dan karenanya saya juga sangat mendukung hal
itu. Buddhisme merupakan ajaran pertama yang mendukung pluralisme, sebagaimana yang diajarkan dalam Upali Sutta dan Prasasti Batu Raja Asoka. Pada Upali Sutta disebutkan dengan jelas bahwa Buddha sangat mendukung eksistensi agama atau ajaran lain dan begitu pula dengan Raja Asoka. Asoka menganjurkan untuk menghormati agama, ajaran, atau sekte lainnya. Sehingga kita sebagai umat Buddha harus mendukung pluralisme ini. Setiap agama pada hakekatnya memiliki hak hidup.

Yang perlu diketahui bahwa Tan juga menentang penutupan tempat ibadah secara semena-mena dan telah pula turut serta dalam mengirim petisi yang menentang penutupan dan pengrusakan rumah ibadah secara semena-mena, kecuali rumah ibadah itu didirikan tanpa prosedur hukum yang benar. Selain itu, saya juga menentang perusakan rumah ibadah secara main hakim sendiri. Jika benar rumah ibadah itu didirikan tanpa prosedur hukum, maka ia juga harus diproses pula secara hukum, tanpa warga harus bertindak sendiri. Memang arogansi umat beragama tertentu yang sering mendirikan tempat ibadah di luar jalur hukum juga harus diluruskan.

AGAMA HINDHU

PURE KESATI LUKE

DAERAH KALI BATA

DENGAN MANGKU KOMENG KARTA

23 NOVEMBER 2009

(10.00 wib)

  1. HARI KIAMAT

Dalam kepercayaan Hindu, pendapat atau pandangan tentang dunia kiamat itu

dalam era demokrasi dewasa ini tentunya boleh-boleh saja. Semua ciptaan Tuhan ditata berdasarkan hukum utpati (tercipta), sthiti (hidup terpelihara) dan pralina (lenyap kembali kepada asalnya). Alam dan isinya ini, setelah masanya selesai beredar dan berputar-putar, akan pralina atau pralaya (istilah kiamat dalam agama Hindu). Istilah kiamat memang tidak dijumpai dalam ajaran Hindu, karena memang itu bukan bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai dalam ajaran Hindu. Namun, yang sejajar dengan konsep kiamat adalah konsep pralina atau pralaya yang ada dalam kitab-kitab Purana. Dalam kitab-kitab Purana, utpati, sthiti dan pralina dibahas secara khusus. Memang terdapat sedikit perbedaan antara Purana satu dan Purana lainnya mengenai konsep ini. Namun, secara umum menyangkut hal-hal yang substansial tentang pralaya, semua Purana isinya sama, bahwa semua ciptaan Tuhan ini kena hukum TRI KONA yaitu utpati, sthiti dan pralina itu.

Konsep pralaya dalam Wisnu dan Brahma Purana ada dinyatakan empat konsep pralaya yaitu:

  • Nitya Pralaya, yaitu proses kematian yang terjadi setiap hari dari semua makhluk hidup. Bahkan dalam diri manusia pun setiap detik ada sel tubuhnya yang mati dan diganti dengan sel baru. Sel tubuh manusia terjadi utpati, sthiti dan pralina.
  • Naimitika pralaya, adalah pralaya yang terjadi dalam satu periode manu. Menurut pandangan ini akan terjadi pralaya terbatas dalam setiap akhir manwantara. Ini artinya akan terjadi 14 kali naimitika pralaya atau kiamat terbatas atau kehancuran alam secara terbatas.
  • Prakrtika Pralaya, yaitu terjadinya pralaya secara total setelah manwantara ke-14. Saat terjadinya Prakrtika Pralaya, seluruh alam semesta beserta isinya lenyap dan kembali pada Brahman atau Tuhan Yang Mahaesa dalam waktu yang panjang atau satu malamnya Brahma. Setelah itu akan terjadi penciptaan lagi dan memulai dengan manwantara pertama lagi. Prakrtika Pralaya inilah yang mungkin identik dengan konsep kiamat menurut kepercayaan lainnya. Karena, semua unsur alam dengan segala isinya kembali pada Brahman. Menurut keyakinan Hindu, hanya Tuhanlah yang kekal abadi. Tapi gambaran dan keadaan mahapralaya sangat berbeda dengan gambaran dan keadaan hari Kiamat. Hari Kiamat digambarkan sebagai kehancuran dasyat yang membawa siksa dan penderitaan tiada taranya bagi manusia. Mahapralaya digambar dengan sangat berbeda: Brahman adalah kebahagian; sebab dari kebahagiaan semua mahluk hidup, dalam kebahagiaan mereka semua hidup, dan ke dalam kebahagiaan mereka semua kembali”!. (Tattiriya Upanishad). Seperti seorang meninggal dengan tenang pada usia tua.
  • Atyantika Pralaya, yaitu pralaya yang disebabkan oleh kemampuan spiritualnya melalui suatu pemberdayaan jnana yang amat kuat sehingga seluruh dirinya masuk secara utuh lahir batin kepada Tuhan Brahman.

Dalam kitab Brahma Purana, dinyatakan satu hari Brahman (satu kalpa) atau satu siang dan satu malamnya Tuhan lamanya 14 manwantara. Satu manwantara = 71 maha yuga. Satu maha yuga = empat zaman yaitu kerta, treta, dwapara dan kali yuga. Satu maha yuga = 4,32 juta tahun manusia. Pada hari itulah aka terjadi pralaya.

  1. SURGA DAN NERAKA

Pada akhirnya setiap manusia akan mengalami reinkarnasi; dia akan kembali hidup di bumi tetapi dalam wujuh tubuh manusia lain atau hewan. Sebelum reinkarnasi, manusia harus lebih dulu melewati hukuman neraka dari 21 macam jenisnya. Di dalam agama Hindu tidak ditemui gambaran neraka yang terkesan menyiksa.

Dalam agama Hindu sebagaimana dijelaskan, setelah mati, jiwa kita  mencapai moksa atau lahir kembali kedunia. Bila kita lahir kembali, maka dalam kelahiran itu kita menerima akibat- akibat dari perbuatan kita dari kehidupan yang terdahulu. Akibat baik atau akibat buruk.

Disini dikenal istilah kelahiran surga dan kelahiran neraka. Kelahiran surga artinya dalam hidup ini kita menjadi orang yang beruntung dan berbahagia. Kelahiran neraka artinya dalam hidup ini kita akan menderita dan banyak mendapat kesulitan. Penderitaan itu sangat banyak jenisnya. Misalnya karena : sakit yang tidak dapat disembuhkan, penghianatan, kebencian, dendam, iri hati, sakit hati, dan kemarahan yang tak terkendali adalah bentuk neraka didunia ini.

Neraka versi Hindu

  1. SELIBAT

Selibat adalah sebuah pilihan hidup yang bersumber dari suatu pandangan atau pemikiran tertentu yang memutuskan sang pribadi untuk memilih hidup tanpa menikah. Pilihan hidup ini, meskipun bebas dianut oleh siapa saja, sebagian besar dilakukan oleh kaum rohaniwan, salah satunya dari agama Hindu. Selibat seringkali dipilih oleh seseorang karena keyakinan akan totalitas pekerjaan, dengan pertimbangan, berkeluarga dipandang bisa menjadi beban. Misalnya, Dokter A ditugaskan dalam suatu peperangan. Bila dia mempunyai keluarga, keluarga tersebut bisa menjadi sasaran ancaman. Melihat situasi tersebut, ada kecenderungan orang memilih selibat.

  1. PLURALISME

Dalam agama Hindu mereka menghargai sikap pluralisme atau toleransi antar agama, karena bagi mereka semua agama sama-sama mengajarkan kebaikan, sehingga mereka merasa tidak ada yang perlu dibeda-bedakan, hal tersebut dapat dilihat dari keluarga Mangku Komang, kedua anaknya menikah dengan orang yang beragama Islam dan beliau tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena menurutnya agama yang lain khususnya Islam memiliki kesamaan.

.
AGAMA KERISTEN KATOLIK

GEREJA ST. LUKAS DAERAH PULO MAS

DENGAN ROMO ANTUNIUS SURYADI

15 NOVEMBER 2009

(09.30 wib)

  1. I.            Pandangan tentang Hari Akhir/Kiamat.

Agama katholik mempercayai akan datangnya hari Akhir/kiamat, karena.hal tersebut merupakan salah satu bentuk keimanan hamba kepada Allah Didalam Injil dijelasankan bahwa Yessus akan turun kembali kebumi pada saat hari kiamat, inilah disebut juga salah satu tanda-tanda hari kiamat yang dimana Yessus berperan sebagai Hakim Utama dalam pengadilan terhadap umat manusia yang berdosa maupun yang taat pada ajaran Agama Katholik. Tetapi masalah kapan waktu terjadinya, didalam injil tidak di jelaskan, yang mengetahuinya hanyalah Allah saja.

  1. II.            Pandangan tentang Surga-Neraka

Secara umum disetiap agama mempercayai tentang adanya surga dan neraka,

kalau berbuaat amal kebaikkan di masukkan kedalam surga dan kalau berbuaat kejahatan maka tempatnya di neraka. Di dalam agama ini pun, mempercayai adanya surga dan neraka, ketika seseorang meninggal tidak langsung dimasukkan kedalam surga. Mereka harus disucikan terlebih dahulu di dalam api pensuciaan. Dosa-dosa ketika di api pensuciaan dapat di ampuni, tatkala orang-rang yang masih hidup mengirimkan doa-doa. Ada agama ini menyediakan waktu khusus untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, yaitu pada tanggal 1-8 November.

  1. III.            Pandangan tentang Sufi atau Selibat

Selibat berasal dari kata Latin “Caecibatus” yang berarti “hidup tidak menikah”. Gereja Katolik Roma menuntut para imamnya (untuk tidak menikah seumur hidup dan taat pada kemurnian pribadi dalam pikiran maupun dalam perbuatan. Selibat bukan suatu pokok iman Katolik, melainkan tuntutan hukum Gereja yang mengatur cita-cita tentang hidup klerus Katolik. Selibat harus dibedakan dari kaul religious untuk tidak menikah. Dalam semua Ritus Timur Gereja Katolik, para Uskup wajib berselibat. Tetapi dalam Ritus Katolik Byzantin, Koptik, Siria, Armenia, dan Rutenia, para Imam biasanya berkeluarga sama seperti dalam Gereja Ortodoks. Hal ini sesusai dengan keputusan Sinode Trullo pada tahun 692. Bahwa pria beristri ditahbiskan juga bukan hanya aturan tata-tertib atau kemudahan hukum Gereja. Inilah suatu keputusan rohani: Sakramentalitas Perkawinan dan Tahbisan saling melengkapi dalam pelayanan sebagai imam. Demikian juga selibat bukan hanya hukum gerejani semata, melainkan keputusan rohani Ritus Roma, hanya orang yang dipanggil Allah pada kehidupan selibat ditahbiskan supaya dapat melayani umatnya dengan lebih leluasa.

  1. Pandangan tentang Pluralisme

Agama khatolik adalah agama yang menekankan moral yang baik, bersikap baik terhadap sesama manusia karena itulah inti dari agama ini. Agama ini sangat menghargai dan mengakui adanya pluralisme beragama. Menurut mereka pada dasarnya tujuan beragama agar menjadi baik. Mereka menjunjung kepada hukum “ Cinta Kasih “ (yaitu mencintai orang apa adanya).[1]


[1] Hasil Observasi di Gereja Khatolik Polau Mas Jakarta dengan Menemuui Romo Antonius Suyadi selaku Pastur, Rabu, 12 November 2009

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s