Metodologi Dakwah

MAKALAH

METODOLOGI DAKWAH

“Metode Dakwah Mimbar Ulama”

Oleh:

Istiqlal H.Pradityo

Jurusan Ilmu Agama Islam

Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri Jakarta

DAFTAR ISI

I.Pendahuluan…..………………………………………………………………………i

II. Pembahasan

MetodeDakwah Mimbar……………………………………………………………1

A. Metode Dakwah KH. Abdullah Syafi’i………………………………………….1

B. Metode Dakwah KH. Zainuddin MZ……………………………………………2

C. Metode Dakwah Ust. Yusuf Mansyur…………………………………………..3

D. Metode Dakwah Ustz. Suryani Thahir………………………………………….5

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………6

III.  Daftar Pustaka………………………………………………………………………7


BAB I

PENDAHULUAN

Dakwah tidak sekedar mengajak seseorang untuk mengikuti apa yang kita dakwahkan tapi prosesnya harus dimulai dari diri pelakunya. Jadi seorang pendakwah harus memiliki pemahaman yang benar, seorang pendakwah harus yakin dan mengamalkan terlebih dahulu sebelum berupaya mempengaruhi orang lain, karena tujuan dakwah mengubah masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik lahir dan batin.

“Katakanlah (Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang   mengikutiku mengajak kepada Allah dengan yakin. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik ” (QS. Yusuf: 108)

Ada dua unsur dakwah yang begitu erat dalam keterkaitan, yaitu isi dan cara penyampaiannya. Isi atau materi-materi dakwah sampai dengan tepat ke sasaran sangat tergantung pada cara penyampaiannya atau metodenya. Juga metode pun biasanya mengacu pada materinya. Dr. Quraisy Shihab berpendapat bahwa ketidaktepatan dari keduanya sering menimbulkan persepsi yang keliru.

Pada makalah kami, kami akan menjelaskan dakwah melalui ceramah-ceramah ( dakwah mimbar ).


BAB II

PEMBAHASAN

METODE DAKWAH MIMBAR

Metode Dakwah mimbar atau Untouchable Preaching adalah metode dakwah yang da’inya menyampaikan pesan dibalik sebuah properti yakni mimbar. Sedangkan audience/ mad’unya mendengarkan dengan duduk berkumpul nan khusyu di hadapan da’i tersebut. Sebagian besar ulama menganut metode ini, namun suasana yang dirasakan begitu kental terkait dengan ulama-ulama terdahulu. Dalam makalah ini, terdapat beberapa sampel da’i yang menggunakan metode dakwah melalui mimbar, antara lain KH. Abdullah Syafi’i, KH. Zainuddin MZ, Ust. Yusuf Mansyur, dan Ustz. Suryani Thahir.

A.  Metode Dakwah KH. Abdullah Syafi’i

Ketenaran Abdullah Syafi’i dimulai dari sebuah kandang sapi. Ketika muncul niatnya untuk mengajar agama pada umur 17 tahun, dia memanfaatkan sebuah kandang sapi milik ayahnya. Sapi dijual, untuk menyulap kandang menjadi mushola. Disitulah dia mengajarkan pengetahuan dasar agama islam kepada lima orang murid yang umurnya lebih tua darinya. Kampung Bali Matraman kala itu (1927) masih udik dan penghuninya awam soal agama, sehingga dia mengajarkan mandi junub dengan apa adanya. Untuk praktek sholat dia membagikan sarung kepada mereka.

Ketika radio amatir semarak, dia juga memanfaatkan alat ini untuk dakwah, sejak 1967, setiap ba’da Subuh suaranya menggema lewat radio Asy Syafiiyah, yang diistilahkan sebagai ”Jauh dimata dekat di Telinga”. Dengan Radio ini sayap Asy Syafiiyah makin meluas keseluruh pelosok Jakarta dan sekitarnya, terutama dalam menunjang kegiatan pendidikan Islam dalam lingkungan Keluarga Besar Asy Syafi’iyah.[1]

Materi dakwah yang disampaikan oleh KH. Abdullah Syafi’i adalah materi yang lebih banyak berkaitan dengan akidah akhlaq dan tarbiyatul aulad, bahkan karena seringnya beliau memberikan ceramah akidah, dibuatlah sebuah kitab akidah mujmalah yang di dalamnya berisi pointer akidah yang bertujuan dengan membaca akidah mujmalah tersebut dapat mengokohkan akidah ummat. Dari tahun ke tahun perguruan AsSyafi’iyah menunjukkan progress yang cukup tinggi, bagaimana tidak diawali dengan metode dakwah yang sangat sederhana saat ini telah membuahkan beberapa perguruan yang menjamur di kalangan ummat. Metode Dakwah beliau dikembangkan lagi oleh putra beliau yakni dengan dakwah via media elektronik yakni radio, yang dahulu radio amatir kini telah memiliki pemancar sendiri, melalui gelombang 95,5fm bernama RASFM. Begitu pula dengan kitabnya, jika dahulu ada akidah mujmalah, saat ini ada kitab yang bernama Hizb Nahdhatul Wathan. Kitab tersebut didapat ketika putra beliau (KH. Abdul Rasyid AS) berguru di Pancor Lombok Barat. Dan kitab tersebut hingga saat ini menjadi bacaan rutin para santri di pondok pesantren KH. Abdullah Syafi’i.

B.  Metode Dakwah KH.Zainuddin MZ

Zainuddin MZ merupakan sosok yang dilahirkan oleh zaman yang sempat berjaya di zamannya. Secara dhahir mungkin bisa dijiplak dan ditiru, misalnya tentang materi dakwah, model gaya bicara, atau bahasanya, namun secara kharisma, falsafah, dan sesuatu yang abstrak, maka hal itu tidak bisa. Yang paling menonjol dari keahlian Zainuddin MZ adalah kemampuan mengurai kata-kata yang mampu membius mustami’nya.

Dalam sebuah buku disebutkan, bahwa buah dakwah Zainuddin telah melahirkan Taubat Abad 20. Yaitu suatu kesadaran massal para Bromocorah (orang-orang yang bergelimang dalam dosa dan kemaksiatan) dari rakyat jelata (rendah) hingga jetset (kalangan menengah keatas), diantaranya para PSK, pemabuk, pencuri, bahkan banyak ilmuwan, tehnokrat, budayawan, seniman yang tidak peduli terhadap islam, menjadi cinta dan masuk islam karena terbius oleh kelihaian kata-kata Zainuddin MZ. Bahkan mereka menjadi barisan kuat dibelakang Zainuddin MZ dalam mengembangkan islam di Indonesia.

Hasil penelitian nasional menyebutkan tentang keberhasilan dakwah Zainuddin MZ yang dilakukan selama kurun waktu 4 bulan (Oktober 1992 – Januari 1993) pada 20 propinsi di Indonesia, dengan menggunakan angket tertutup sebanyak 2500 angket. Jawaban responden kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan. Diantara kesimpulannya adalah sebagai berikut:

Pertama, dari 2500 responden yang tersebar di 20 propinsi di Indonesia, ternyata ditemukan 2165 atau 86,60 % orang mengaku kagum atas ceramah Zainuddin MZ. Mereka salut, tidak merasa bosan, bisa memantapkan keyakinan serta selalu mengajak pada kerukunan.

Kedua, dari 2500 responden yang tersebar di 20 propinsi di Indonesia, 2074 atau 82,95 % orang mengatakan bahwa da’wah Zainuddin MZ mengena, menyentuh, mengisi jiwa dengan ajaran Islam, menggugah jiwa yang terlena, serta membangkitkan jiwa untuk kembali kepada jalan yang benar.

Ketiga, dari 2500 responden yang tersebar di 20 propinsi di Indonesia, 2163 atau 86,44 % orang menyatakan bahwa dakwah Zainuddin MZ mengena di hati, bahkan sekalipun ceramah Zainuddin MZ itu di ulang-ulang, tetap menarik dan tidak membosankan serta mudah dimengerti dan diterima. Adapun dasar kekaguman mereka adalah karena metode, gaya bahada, dan materinya lain daripada yang lain.

Memang, pada diri Zainuddin MZ telah terkumpul 3 orator besar bangsa ini. Ia bisa menjadi “Singa” seperti Soukarno, mampu mewarisi kehalusan bahasa Buya Hamka, dan sanggup bermain logika seperti Idham Kholid (seorang menteri di-era ORBA). Sebagai figur seorang da’i, memang harus memiliki 4 kelebihan yang tidak setiap orang memilikinya.

Pertama, punya mata setajam rajawali (dengan cepat mampu mengamati gejala-gejala fenomena masyarakat yang masih hangat sekalipun), sehingga materi ceramah sesuai dengan kepentingan masyaraskat. Ke-dua, berhati seperti radar (memiliki sandaran vertikal kuat, maka hati selalu hidup), dengan hati yang hidup inilah mampu mendeteksi persoalan yang orang lain belum pernah memikirkannya. Ke-tiga, punya kaki sekuat cengkeraman Garuda (mampu mengendalikan diri sehingga tidak hanyut oleh perubahan zaman seperti tipu daya dunia yang glamour). Ke-empat, bertangan sehalus seniman (sanggup melakukan pendekatan dengan berbagai pihak secara manusiawi. Ibarat mencubit tidak terasa sakit) dakwah menyentuh bukan menyinggung, mengajak bukan mengejek[2].

C.  Metode Dakwah Ust. Yusuf Mansyur

Ustadz Yusuf Mansyur memang menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang saat ini. Bukan hanya karena penuturannya tentang konsep shodaqoh dalam Al-Quran, tetapi juga karena kisah hidup Ustadz Yusuf Mansyur yang jatuh bangun dan menarik untuk kita ambil hikmahnya.

Ustadz Yusuf Mansyur mulai terlilit hutang ketika terjun di dunia bisnis. Bisnis informatika tepatnya. Hutang yang konon katanya sangat besar sehingga mencapai angka milyaran, membuat Ustadz Yusuf Mansyur harus membekuk di penjara.

Pengalaman spiritual hadir pada diri Ustadz Yusuf Mansyur ketika berjualan es di terminal kali deres selepas keluar dari bui. Di sinilah pengalaman shodaqoh dengan keikhlasan mulai berbuah. Lambat laun usaha dagang es Ustadz Yusuf Mansyur merangkak naik.

Apalagi setelah Ustadz Yusuf Mansyur bekerja di LSM. Selama kerja di LSM itulah, Ustadz Yusuf Manyur membuat buku berjudul Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang. Sebuah buku yang terinspirasi oleh pengalaman pribadinya sendiri saat terpenjara dan ketika rindu dengan orang tuanya.

Atas sambutan masyarakat yang luar biasa terhadap buku Ustadz Yusuf Mansyur ini, maka hidup Ustadz Yusuf Mansyur pun lambat laun berubah dan sering diundang ceramah dan bedah buku.

Dakwah Ust. Yusuf Mansur memang dikenal dengan anjurannya untuk bersedekah.

Ust. Yusuf Mansur ingin mendorong umat agar menginfaqkan hartanya di jalan ALLAH dengan mengemukakan realita akan janji ALLAH dalam Al Quran

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkah hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS.Al Baqoroh : 245).

Perumpamaan (nafkah yang di keluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siap yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. ( Al Baqoroh:261)

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. ( Al Baqoroh : 265 )

D.  Metode Dakwah Ustz. Suryani Thahir

Ustadzah Siti Suryani Thohir adalah putrid dari KH. Thohir Rohili, beliau adalah salah satu ulama perempuan yang termasyhur di Indonesia. Beliau merupakan murid dari KH. Abdullah Syafi’i, selama 4 tahun lamanya beliau berguru dan menimba ilmu-ilmu keislaman kepada Kiai Betawi yang terkenal pada masa itu. Setelah matang Ustz Suryani Thahir melanjutkan pendidikannya di Makkah Al-Mukarromah hingga mendapat gelar Doktor.

Setelah selesai dalam studinya beliau kembali ke tanah air untuk menyebarkan ilmu dan mengabdikan diri kepada ummat. Apa yang telah beliau dapat disampaikan kembali kepada jama’ah tentu dengan metode dan materi yang berbeda.

Beliau pertama kali mencoba melakukan reorientasi dakwah terhadap metode dakwah Islam. Baginya Majlis Ta’lim bukanlah merupakan sarana proses belajar mengajar yang bersifat satu arah (one way) tetapi sebaliknya. Bagi Suryani metode konvensional tidak dapat lagi digunakan, oleh karena itu ia menyajikan metode baru yang sifatnya terpadu. Memberi kesempatan kepada jama’ah membaca kitab kuning kemudian dilanjutkan kepada dialog interaktif.[3]

Adapula materi yang disampaikan ketika beliau berdakwah antara lain berisi tentang;

  1. Pelatihan peningkatan mutu muballigh (latihan pidato, manajemen, latihan dan metode pendidikan)
  2. Program lokakarya peningkatan keterampilan mengajar (perencanaan dakwah, administrasi kuangan Majlis Ta’lim, organisasi pengembangan Majlis Ta’lim)
  3. Program pelatihan dakwah bilhal.
  4. Seminar perluasan wawasan.

KESIMPULAN

Dewasa ini dakwah mimbar sudah tidak menjadi acuan utama dalam mensyiarkan ajaran islam, karena pada era modern saat ini dakwah mimbar sudah mulai jarang diikuti oleh masyarakat, hal tersebut dikarenakan kesibukan masyarakat yang lebih mementingkan kehidupan duniawi, sehingga untuk mempopulerkan dakwah mimbar para penda’i harus menggunakan sarana dan prasarana modern untuk menarik minat masyarakat, dan juga dakwah mimbar dalam konteks isi harus mengalami perubahan tidak lagi hanya berkutat pada malah akhirat semata, namun juga harus memperhatikan masalah kehidupan sosial, keuangan dan kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat, sehingga dakwah tersebut menjadi lebih menarik dan mampu menjawab permasalahan-permasalahan dalam masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

–         Sumber : Majalah Alkisah No.22/thn IV/23 okt-5Nov 2006

–         Burhanuddin, Jajat. Ulama Perempuan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2002

–     http://pakdeiwan.blogspot.com/2009/06/sang-maestro.html

–         http://alumnifiad.youneed.us/dakwah-kultural-f14/media-dakwah-t46.htm


[1]Sumber : Majalah Alkisah No.22/thn IV/23 okt-5Nov 2006

[2] http://pakdeiwan.blogspot.com/2009/06/sang-maestro.html

[3] Burhanuddin, Jajat. Ulama Perempuan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2002

One response to “Metodologi Dakwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s