PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL

A.      Masuknya Islam ke Spanyol

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah AL-WALID (705–715 M), slah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari Dinasti Bani Umayyah. Penguasaaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan Ibnu Nu’man Al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan Ibnu Nu’man sudah digantikan oleh Musa Bin Nushair. Di zaman Al-Walid itu, Musa Bin Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazairdan Maroko. Selain itu ia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa-bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu propinsi dari Khalifah Bani Umayyah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah Ibnu Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa Al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemidian dikkuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu kerajaan GHOTIK. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.

Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat 3 (tiga) pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah :

  1. THARIF IBNU MALIK
  2. THARIQ IBNU ZIYAD
  3. MUSA IBNU NUSHAIR

Tharif dapat disebut sebagai perintis dan pnyelidik. Ia menyebrangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, 500 orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka memiliki empat buah kapal yang disediakan oleh JULIAN. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak seedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visighothic yang berkuasa di Spanyol pada masa itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa Ibnu Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7.000 orang dibawah pimpinan Thariq Ibnu Ziyad.

Thariq Ibnu Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih basar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa Ibnu Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian menyebrangi selat di bawah pimpinan THARIQ IBNU ZIYAD. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama “GIBRALTAR” (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting seperti : Cordova, Granada, dan Toledo(ibukota kerajaan Goth saat itu). Sebelum Thariq menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibnu Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5.000 personil, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, yaitu 100.000 orang.

Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq Ibnu Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu Musa Ibnu Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang lebih besar, ia berangkat menyebrangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Sevilla, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothik, THEODOMIR di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utamanya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.

Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Abdil Aziz tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman Ibnu Abdullah Al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordeux, Poiter dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi di antara kota Poiter dan Tours itu ia di tahan oleh CARLES MATEL, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.

Sesudah itu masih juga terdapat penyerangan-penyerangan seperti di Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah. Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodesia, Cyprus dan sebagian dari Sisilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayyah. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke 8 M ini telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.

Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan. Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri.

Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan yang menyedihkan. Secara politik wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothik bersikap tidak toleran terhadap penganut aliran agama Kristen yang bukan ”aliran monofisit”. Yang terakhir ini merupakan aliran yang dianut penguasa. Aliran Monofisit di dalam dunia Kristen menganut pendirian bahwa Jesus Kristus itu hanya memiliki satu zat saja. Aliran paham ini terbagi dua : satu pihak bependirian bahwa Jesus Kristus hanya memiliki zat-insaniyat (kemanusiaan) saja. Pihak lain dari paham Monofisit berpendirian bahwa Jesus Kristus hanya memiliki zat-ilahiyat (ketuhanan) saja, dan berpendirian bahwa paham Trinitas (Allah Maha Esa itu terdiri dari Tiga Oknum) adalah bid’ah. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama kristen. Yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh secara brutal. Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang islam. Berkenaan dengan itu AMEER ALI, seperti dikutib oleh IMAMUDDIN mengatakan : ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di Jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dala kemelut  yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.

Perpecahan politik memperuruk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal sewaktu Spanyol berada di bawah pemerintahan Romawi, berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dengan daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.

Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam.

Awal kehancuran kerajaan Goth adalah ketika raja Roderick memindahkan ibukota negaranya dari Sevilla ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari OPPAS dan ACHILA (kakak dan anak Witiza). Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum Muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian (mantan penguasa wilayah Septah). Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Thariq, dan Musa.

Hal lain yang sangt menguntungkan tentara Islam adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu orang yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.

Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya.

Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Merekapun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong-menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum Muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam disana.

B.      Perkembangan islam di Spanyol

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode yaitu :

1.         Periode Pertama (711-755 M)

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali, yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama berupa perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu ada terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan pandanga politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Didalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing, yaitu suku Qais (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.

Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman Ad-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.

2.         Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama adalah ABDURRAHMAN I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/75 M dan diberi gelar Ad-Dakhil (Yang masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya ia berhasil mendiriksn dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah :

Abdurrahman Ad-Dakhil, Hisyam I,Hakam I, Abdurrahman Al-Ausath, Muhammad Ibnu Abdurrahman, Mundzir Ibnu Muhammad dan Abdullah Ibnu Muhammad.

Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalm bidang peradaban. Abdurrahman Ad-Dakhil mendirikan Masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spantol. Sedangkan Abdurrahman Al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman Al-Ausath. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.

Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke 9 stabilitas Negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahida (Martyrdom). Namun, Gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintah Islam diperbolehkan mengembangkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hokum Kristen. Peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu mereka diizinkan mendirikan gereja baru, biara-biara disamping asrama rahib atau lainnya. Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer.

Gangguan politik yang paling serius pada periode ini dating dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk Negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh HAFSHUN da anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi.

3.         Periode Ketiga (912 – 1013 M)

Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar “AN-NASIR” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan MULUKUTH THAWAIF.

Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muqtadir, khalifah Daulah Bani Abbas di Bagdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada 3 orang, yaitu :

1.         ABDURRAHMAN AN-NASIR (912 – 961 M)

2.         HAKAM II (961 – 976 M)

3.         HISYAM II (976 – 1009 M)

Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan, kejayaan, dan menyaingi kejayaan daulah Abbasiyah di Bagdad. Abdurrahman An-Nashir mendirikan Universitas Cordova.

Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada msa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.

Awal dari kehancuran khalifah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan actual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, khalifah menunjuk IBNU ABI AMIR sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar “AL-MANSHUR BILLAH”. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya AL-MUZAFFAR yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi setelah Al-Muzaffar wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, Negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M Khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali Negara kecil yahg berpusat di kota-kota tertentu.

4.         Periode Keempat (1013 – 1086 M)

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh Negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau “MULUKUTH THAWAIF”, yang berpusat di suatu kota seperti Sevilla, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah ABBADIYAH di Sevilla. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.

5.         Periode Kelima (1086 – 1248 M)

Pada periode Islam Spanyol meskipun masih terpecah dalam beberapa

Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaann Dinasti Murabitun dan Muhawidun. Dinasti Murabitun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan ol;eh Yusuf Ibnu Tasyfin di Afrika Utara pada tahun 1062M. ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy, ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa Islam disana yang telah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negerinya dari serangan orang-orang Kristen.

Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia. Karena perpecahan di kalangan raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi penguasa sesudah Ibnu Tasyfin adalah raja yang lemah. Pada tahun 1943 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun Spanyol dan digantikan oleh Dinasti Muwahidun. Pada masa dinasti Murabitun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. di Spanyol sendiri sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahidun didirikan oleh Muhammad Ibnu Tumart.

Dinasti ini datang ke Spanyol dibawah pimpinan Abdul Mun’im. Antara tahun 1114 M dan 1154 M, kota-kota muslim penting : Cordova, Almeria dan Granada jatuh dibawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa decade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipikul mundur. Akan tetapi, tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalakan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. keadaan Spanyol kembali runyam, berada dibawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Sevilla jatuh tahun 1248 M. seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.

6.         Periode Keenam (1248 – 1492 M)

Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti Bani Ahmar (1232 – 1492 M). peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Akan tetapi secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperbaiki kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantunya menjadi raja.

Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalm pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad Ibnu Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dan penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta. Tentu saja, Ferdinand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut. Dan peda akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian beakhirlah kekuasan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalakan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat islam di daerah ini.

C.      Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Islam di Spanyol.

 

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.

  1. 1.                  Kemajuan Intelektual

 

Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir.

Masyarakat Islam spanyol merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), Al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (Umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), Al-Shaqabillah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb, yang berbudaya Arab dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam.

Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektualterhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan Ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Spanyol.

  1. a.                  Filsafat

 

Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani – Arab ke Eropa pada abad ke-12. minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5. Muhammad Ibnu Abdurrahman (832-886 M). atas inisiatif Al-Hakam (961-976 M), karya-kaya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan Universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama Ilmu Pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.

Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat antara lain :

v    Ibnu Bajjah (wafat 1138 M)

 

Filosof besar pertama bernama Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya Ibn Al-Sayigh Ibn Bajja yang di Eropa dikenal dengan nama Avempace. Ia lahir di Saragosa pada penutup abad kelima Hijriah dan meninggal di Fez pada tahun 533 H. pada tahun 512 H Saragosa jatuh ketangan Raja Alfonso I dari Aragon, dan Ibn Bajjah terpaksa pindah ke Seville. Di kota ini ia bekerja sebagai dokter, kemudian ia pindah ke Granada dan darisana selanjutnya ke Maroko.

Ibn Bajja banyak menulis tafsiran tentang falsafat Aristoteles. Bukunya yang terkenal ialah tadbir Al-Mutawahhid. Pendapat Al-Ghazali bahwa kebenaran dapat dicapai melalui jalan sufi ia kritik. Unyuk sampai kepada kebenaran menurut pendapatnya, orang harus menempuh jalan filsafat. Tidak semua orang dapat berfalsafat, karena umumnya orang mudah digoda oleh hidup duniawi dan kesenangan jasmani. Untuk mencari kebenaran orang harus menyendiri dan meninggalkan masyarakat umum. Para fil;osof sebaiknya membentuk masyarakat tersendiri, jauh dari masyarakat yang lebih mementingkan hidup kematerian itu. Dalam masyarakat tersendiri serupa inilah orang akan dapat sampai kepada kebenaran.

v        Ibnu Tufail (wafat 1185 M)

 

filosof besar kedua dari Spanyol Islam ialah Abu Bakar Muhammad Ibn Abd Al-Malik Ibn Tufail. Ia lahir di Cadix, suatu kota kecil di dekat Granada, pada permulaan abad keduabelas masehi dan meninggal di Maroko pada tahun 1185 M. Disamping filosof, ia juga penyair, dokter, ahli matematika dan ahli astronomi. Di Granada ia menjadi sekretaris Gubernur dan di Maroko Menteri dak dokter dari Khalifah Abu Ya’kub (Dinasti Al-Muwahhid). Di dunia latin ia dikenal dengan nama Abubacer.

Falsafatnya terkandung dalam buku Hayy Ibn Yaqzan, yang menceritakan bagaimana Hayy kepada pengetahuan dan pengakuan adanya tuhan. Akalnya menghasilkan agama yang bersifat filosofis. Dalam buku tersebut selanjutnya diceritakan bahwa seorang ulama bernama asal kepulau itu untuk menyendiri dan beribadat kepada tuhan. Setelah mereka berjumpa ternyata bahwa agama yang ditimbulkan pemikiran akal Havy dalam garis besarnya sama dengan agama samawi yang dianut asal.

Yang ingin digambarkan Ibn Tufail kelihatannya adalah pendapat para filosof bahwa pengetahuan yang diperoleh akal dan pengetahuan yang dibawa wahyu tidak bertentangan. Kedua pengetahuan itu bersumber dari tuhan.

v        Ibnu Rusyd (1126-1198 M)

Filosof terbesar yang dihasilkan Andalus adalah Abu-Alwalid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rusyd. Ia lahir di Cordova pada tahun 1126 M dikalangan keluarga ahli-ahli hukum. Nenek dan oprang tuanya mempunyai kedudukan hakim agung. Dimasa mudanya Ibnu Rusyd belajar teologi Islam, hukum Islam, Ilmu Kedokteran, matematika, astronomi, sastra dan filsafat. Pada tahun 1169 M ia di angkat menjadi hakim di Seville dan pada tahun 1182 M hakim di Cordova.

Melihat kealiannya sebagai dokter, filosof dan ahli hokum, tidak mengherankan kalau Ibn Rusyd mandapat kedudukan dan penghargaan tinggi dari khalifah Al-Muwahhid Abu Ya’qub Yusuf dan Khalifah Abu Yusuf Ya’qub Al-Mansur. Tetapi antara Ibn Rusyd dan ahli-ahli hokum islam terdapat permusuhan dan atas tuduhan bahwa ia menganut faham-faham filsafat yang bertentangan dengan ajaran islam ia akhirnya ditangkap dan diberikan hokum tahanan kota di Lucena yang terletak dekat dengan Cordova. Kemudian ia dipindahkan ke Maroko dan meninggal disana pada tahun 1198 M.

Ibn Rusyd banyak memusatkan perhatiannya pada falsafat Aristoteles dan menulis ringkasan-ringkasan dan tafsiran-tafsiran yang mencakup sebagian terbesar dari kalangan-kalangan filosof yunani itu. Disamping itu ia juga menulis buku-buku karangan sendiri. Dalam bidang kedokteran dikenal buku Al-Kulliat yang telah diterjemahklan kedalam Bahasa latin dengan nama Colleget. Dalam bidang falsafat Tahafut Al-Tahafut dan Fasl Al-Maqal, Tahafut Al Tahafut ia tulis sebagai jawaban terhadap buku Al-Ghazali Tahafut Al-Falasifah. Dalam bidang hokum Bidayah Al-Mujtahid.

Buku-buku Ibn Rusyd mengenai falsafat Aristoteles banyak diterjemahkan kedalam bahasa latin, dan berpengaruh bagi ahli-ahli piker Eropa sehingga ia diberi gelar Penafsir (Commentator), yaitu penafsir dari falsafat Aristoteles. Kemudian terdapat di Eropa suatu aliran yang disebut Avveroism. Menurut aliran ini falsafat mengandung kebenaran, sedang agama dan wahyu membawa hal-hal yang tidak benar. Jelas bahwa pendapat demikian tidak mungkin bersumber pada falsafat Ibn Rusyd, karena ia sebagai filosof-filosof  Islam lain, berkeyakinan bahwa akal dan wahyu tidak bertentangan. Keduanya sama-sama membawa kebenaran. Kekeliruan ini kelihatannya timbul dari kesalah-fahaman penulis barat abad ketiga belas tentang penafsiran Ibn Rusyd terhadap falsafat Aristoteles.

Tidak mengherankan kalau kaum gereja mengecap Ibn Rusyd sebagai ateis. Falsafatnya dianggap bertentangan dengan agama dan buku-buku dilarang. Tetapi disebalik itu pendapat-pendapat yang dimajukan oleh Thomas Aquinas (1225-1274 M) banyak persamaannya dengan falsafat Ibn Rusyd. Sama dengan Ibn Rusyd, Aquinas juga berpendapat bahwa akal dan wahyu tidak bertentangan, bahkan sejalan. Pendapat-pendapat Ibn rusyd banyak dimasukkan oleh Moses Ben Maimun (Maimonedes : 1135-1204 M), seorang filosof Yahudi, kedalam bukunya Dalalat Al-Hairin. Buku ini dibaca oleh Aquinas. Pengaruh Ibn Rusyd terhadap Aquinas diakui oleh penulis-penulis barat.

Kalau di Barat Ibn Rusyd dikenal sebagai dokter dan penafsir falsafat Aristoteles, di dunia Islam ia dikenal sebagai ahli hokum dan filosuf yang membela rekan-rekannya terhadap kritik dan serangan Al-Ghazali.

  1. b.                              Sains

 

Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia, dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas Ibn Farnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Dia orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim Ibn Yahya Al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata srya dan bintang-bintang. Ahmad Ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm Al-Hasan Bint Abi Ja’far dan saudara perempuan Al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.

Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal. Ibn Jibair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia, dan Ibn  Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn Al-Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan diatas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang Sains.

  1. c.                   Fiqh

 

Dalam bidang Fiqh, Islam Spanyol dikenal sebagai penganut nadzhab Malikin yang memperkenalkan madzhab ini disana adalah Ziyad Ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu BakrIbn Al-Quthiyah, Mundzir Ibn Sa’id Al-Buluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.

  1. d.                  Musik dan kesenian

Dalam bidang musik dan seni suara, islam Spanyol mencapai kecemerlangan dengan tokohnya Al-Hasan Ibn Nafi yang dijuluki ZARYAB. Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan jamuan, zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Dia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.

  1. e.                   Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Bahkan penduduk asli spanyol menomorduakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain, Ibn Sayyidih, Ibn Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan Al-Gharnathi.

  1. f.                   Kemajuan Pembangunan Fisik

Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam, kanal-kanal, saluran sekunder, dan jembatan-jembatan air didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan begitu juga mendapat jatah air.

Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air, waduk (kolam) dibuat untuk konserfasi (penyimpanan air). Pengaturan hidrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air (water wheel) asal Persia yang dinamakan NA’URAH (Spanyol:Noria). Di samping itu orang-orang Islam juga memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun-kebun dan taman-taman.

Industri, di samping pertanian dan perdagangan, juga merupakan tulang punggung ekonomi islam di Spanyol. Di antaranya adalah tekstil, kayu, kulit, logam, dan industri barang tembikar.

Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah Masjid Cordova, kota Al-Zahra, istana Ja’fariyah di Saragosa, Tembok Toledo, Istana Al-Makmun, Masjid Sevilla, dan istana Al-Hamra di Granada.

  1. 3.                  Pusat-pusat Peradaban Pada Masa Pemerintahan Islam di Spanyol

 

  1. a.                  Kordova

 

Kota Kordova dijadikan ibukota oleh Abdurrahman Ad-Dakhil (822-852 M), kemudian mencapai puncak keindahannya pada masa Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir (911-961 M). Kordova menjadi kota teladan diseluruh Eropa, karena waktu itu kota-kota di Eropa masih becek, gelap dan sepi, sedang di Kordova sudah ramai dan teratur serta indah dipandang mata. Walaupun kotanya ramai dan besar, namun tidak ada gejala kerusakan moral atau akhlak.

Di tengah kota Kordova terdapat istana khalifah dan didalamnya terdapat 340 rumah yang indah-indah, memiliki gaya cipta sendiri. Di antaranya adalah Al-Mubarok, Al-Kamil, Al-Masruq, Al-Mujaddid, dan Al-Khair serta yang lainnya.

Di luar kota Kordova, Abdurrahman Ad-Dakhil mendirikan sebuah istana baru bernama “QASR AZ-ZAHRA”. Bangunan yang indah ini diperuntukkan kepada istrinya, Az-Zahra dengan biaya 20.000.000 dinar emas. Bangunan ini mempunyai dua gapura yang bagus dan dijaga oleh prajurit dengan ketat. Gapura itu bernama “BAB AL-AQBA” dan yang kedua bernama “BAB ASSIDDA”. Didalamnya terdapat tiga ruangan penting, yaitu istana Al-Mu’nis (yang menghibur), istana Al-Manam (kamar tidur), dan yang terpenting adalah masjid khalifah yang dipergunakan untuk musyawarah para ulama dan para wazir. Ruangan inilah yang terindah, berisi barang-barang perhiasan yang dibuat dari emas, berlian dan permata.

Diantara kebanggaan kota Kordova lainnya adalah masjid Kordova. Menurut Ibn Al-Dala’I, terdapat 491 masjid di sana. Pendiri masjid Kordova adalah Abdurrahman Ad-Dakhil. Tempat masjid itu semula adalah tempat gereja kecil. Atas persetujuan umat Kristen di gereja itu dipindahkan. Masjid ini dapat menampung 80.000 orang. Panjangnya ke selatan 175 meter dan dari Timur ke Barat 135 meter. Jumlah tiangnya 1.400 buah dengan tinggi menara 20 meter. Kubahnya disangga oleh 3.000 buah pilar marmer. Di depan mihrab terdapat 4 (empat) buah tiang; dua tiang dari pualam hijau dan dua tiang dari pualam biru. Gapuranya ada 20 buah. Sedang kendil yang besar berisi 100 lampu. Disamping mihrab ada sebuah khazanah yang berisi pembendaharaan masjid serta alat-alat yang berharga yang dipergunakan hanya tiap-tiap tanggal 27 bulan Ramadhan dan disana terdapat Mushaf Usmani yang hanya bias diangkat oleh dua orang dan masih ada tetesan darah Usman yang meninggal terbunuh oleh penghianat, dimana beliau sedang membaca Al-Qur’an. Masjid raya Kordova sekarang ini dijadikan gereja Nasrani dan diberi nama “MOSQUITA”.

  1. b.                  Granada

 

Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Disana berkumpul sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Kordova diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Disana terdapat sebuah istana yang indah yang dibuat oleh raja-raja Bani Ahmar dan diberi nama “AL-HAMRA”. Al-Hamra merupakan sebuah istana yang permai yang didalamnya terdapat masjid yang indah dan mungil. Masjid itu bernama AL-MULK (masjid Sultan) yang didirikan oleh Sultan Muhammad II. Istana Al-Hamra yang indah itu terdiri dari beberapa ruangan, antara lain :

v    Qa’at Shafra (ruangan kuning). Ruangan ini yang paling indah dan dibuat oleh Sultan Abu Al-Hujjaj Yusuf bin Al-Ahnar.

v    Qa’at Hukmi (ruangan pengadilan). Di dalamnya terdapat lambing keadilan, berupa gambar tangan menengadah ke atas dan disampingnya dua anak kunci (lambing keadilan).

v    Taman Singa (Taman Hiburan)

v    Qa’at Bani Siraj

v    Qa’at Al-Ukhtain (ruang dua bersaudara perempuan)

v    Hausy Ar-Raikhan (Ruang Istirahat Sultan)

v    Disana terdapat menara Al-Hamra yang tingginya 26m.

Pada setiap tanggal 2 Januari terdengar bunyi lonceng raksasa yang beratnya 1200 kg, yang tergantung pada puncak menara itu; dibunyikan selama 24 jam. Sebab tanggal tersebut merupakan jatuhnya Granada ke tangan orang-orang Kristen pada tahun 898 H = 1492 M, dan dalam abad ke XVII itu masjid Al-Mulk dijadikan gereja “SANTA MARIA”.

  1. c.                   Sevilla

 

Sevilla merupakan kota yang indah, terletak di tepi sungai Guadal Quivir. Pernah dijadikan ibukota kerajaan Mulukutthawaif. Pada masa kerajaan Muwahhidun dibawah pemerintahan Sultan Yusuf Abu Ya’kub (1163-1184 M), di sevilla didirikan masjid yang sangat indah. Sevilla merupakan kota kedua setelah Madrid. Banyak sekali peninggalan-peninggalan Islam, karena Islam pernah menguasainya selama 5 abad. Gereja Santa Maria dahulu merupakan masjid yang diubah menjadi gereja dengan menara yang indah dan masih utuh sampai sekarang, dan bernama Latour Giralda; tingginya 70 meter dan dasarnya 13,60 meter. Sekarang puncaknya berisi penuh arca yang terbuat dari perunggu yang tingginya 4 meter dengan berat 1288 kg.

Dan yang merupakan sumbangan terhadap dunia ialah timbulnya banyak universitas, misalnya universitas Kordova, Sevilla, Malaga dan Granada. Siswa-siswa dari luar negeri menyukai Universitas Granada dengan jurusan-jurusan ilmu ketuhanan, falsafah, kedokteran, kimia,astronomi, dan yurispudensi.

Pada waktu Islam meninggalkan Sevilla, kunci kota Sevilla diserahkan kepada Raja Ferdinand, kemudian masjid Sevilla dijadikan gereja Santa Maria de La Sade.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s